Tatanan dunia baru di abad ke 21 banyak mengalami perubahan. Saat ini dunia sudah mulai memasuki tatanan perdagangan bebas. Tatanan yang seperti ini semakin membuka peluang kerjasama antarnegara. Namun di sisi lain, perubahan tersebut membawa konsekwensi persaingan yang makin ketat dalam hal barang, jasa, modal maupun tenaga kerja atau Sumber Daya Manusia (SDM). Selain itu dengan adanya Revolusi Industri 4.0 (RI 4.0) yang menerapkan penggantian Sumber Daya Manusia dengan teknologi semakin menambah ketatnya persaingan lulusan di Dunia Usaha, Dunia Kerja dan Dunia Kerja (DUDIKA).

Untuk dapat berkiprah dalam era tersebut diperlukan SDM yang mempunyai daya saing dengan negara lain, adaptif dan antisipatif terhadap berbagai perubahan dan kondisi baru, terbuka terhadap perubahan, mampu belajar bagaimana belajar (learning how to learn), memiliki berbagai keterampilan, mudah dilatih ulang, serta memiliki dasar-dasar kemampuan luas, kuat, dan mendasar untuk berkembang di masa yang akan datang (Depdikbud, 1997).

Untuk dapat beradaptasi dengan tatanan dunia baru tersebut Wagner (2008), dalam buku The Global Achievement Gap menuliskan tujuh keterampilan agar mampu bertahan dalam tata dunia baru, yakni:

  1. Critical thinking and problem solving,
  2. Collaboration across networks and leading by influence,
  3. Agility and adaptability,
  4. Initiative and entrepreneurialism,
  5. Effective oral and written communication,
  6. Accessing and analyzing information, dan
  7. Curiosity and imagination.

Ke 7 hal tersebut di kenal dengan istilah softskill. Softskill merupakan atribut bawaan kita sebagai individu. Skill ini dapat dipelajari namun tidak melalui bangku pendidikan tetapi dengan lebih banyak berinteraksi dengan orang lain dan melatih kepekaan terhadap lingkungan di sekitar kita.

Setelah kemampuan kepribadian tersebut barulah yang di kembangkan hardskill yang merupakan kemampuan spesifik yang di peroleh selama di bangku pendidikan.