Teaching Factory bukan Money Factory

Program pemerintah atau bukan Teaching Factory (TeFa) adalah sebuah metode pembelajaran yang merupakan gabungan antara Pembelajaran Berbasis Kompetensi (Competency Based Learning) dan Pembelajaran Berbasis Produk (Product Based Learning). Tujuan tefa adalah menjadi salah satu metode untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan siswa dan juga guru sesuai dengan kebutuhan dunia industri (dudi) di sekitarnya. Metode ini meliputi peningkatan masukan (input), proses (process) dan keluaran (output) dari SMK YPK SERUI untuk semua kompetensi keahlian. Kita akan mengambil contoh penerapan tefa pada kompetensi keahlian Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran (OTP).

Input

Sekolah selalu menerima siswa baru tanpa memandang perbedaan. Perbedaan Pengetahuan dan Ketrampilan akan tampak saat mempelajari mata pelajaran Dasar Program Keahlian. Sebagian siswa X OTP akan cepat paham mata pelajaran “Korespondensi” karena sudah melihat prosesnya di kantor / industri. Sebagian lainnya hanya mencoba membayangkan mata pelajaran ini karena belum pernah melihat prosesnya. Melalui metode tefa, siswa X OTP (training) dapat belajar dan paham “Korespondensi” dengan pengamatan secara langsung di industri yang di jalankan oleh siswa kelas XI (worker) dan kelas XII (supervisor). Industri berperan sebagai sumber belajar. Sedangkan guru mengarahkan kegiatan belajar sesuai kompetensi dasar mata pelajarannya. Dalam hal ini guru mata pelajaran kelas X dapat menggunakan metode pembelajaran lain, misalnya: Discovery Learning atau Project Based Learning.

Process

Kurikulum sekolah menengah kejuruan adalah 30% teori dan 70% praktek. Melalui metode tefa, kelas XI OTP (worker) dapat menerapkan mata pelajaran Kompetensi Keahlian “Otomatisasi dan Tata Kelola Kepegawaian” secara langsung di industri. Sedangkan siswa Kelas XI kompetensi lain (worker) turut mengembangkan industri sesuai mata pelajaran di kompetensi keahliannya. Kelas XII OTP (supervisor) sebagai manajer mengawasi pengelolaan kepegawaian di industri. Guru mata pelajaran mengarahkan proses kerja dan mengevaluasi hasil kerja siswa Kelas XI (worker). Semua guru mata pelajaran khususnya produktif dapat menerapkan metode tefa dengan menambahkan produk yang dapat di hasilkan sesuai dengan salah satu atau semua kompetensi dasar yang di ajarkan. Misalnya: pada mata pelajaran IPA dengan Standar Kompetensi “Memahami polusi dan dampaknya bagi manusia dan lingkungan” dan Kompetensi Dasar “Mengidentifikasi Jenis Limbah”, guru dapat mengarahkan siswa untuk membuat produk kliping berjudul “Polusi” yang di produksi oleh industri dan hasilnya menambah literatur perpustakaan sekolah.

Output

Melalui metode tefa, diharapkan siswa tidak hanya memahami saja tetapi juga bisa menerapkan pengetahuan dan memperoleh ketrampilan dari mata pelajaran sesuai kompetensi keahliannya masing-masing. Kelas XII (supervisor) hanya diberi tugas pengawasan industri agar lebih fokus mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional. Dengan demikian, setelah lulus siswa tidak hanya mempunyai bekal ketrampilan dan pengetahuan di dunia kerja tetapi juga memperoleh hasil belajar yang baik.

Terdapat 3 model tefa yaitu:

  1. Siswa magang langsung di dunia industri. SMK YPK SERUI melaksanakan dalam bentuk Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) selama 3 bulan di Kelas XII.
  2. Dunia industri meminjamkan peralatan untuk di gunakan siswa dalam pembelajaran sesuai dengan kompetensinya dalam pengawasan guru. Di Kabupaten Kepulauan Yapen sangat sedikit industri yangs sesuai kompetensi keahlian. Bahkan jika ada, jarang di temukan industri bersedia melakukan bagi pakai (share) sumber daya hanya untuk pembelajaran. Salah satu penyebabnya adalah peralatan industri harganya sangat mahal.
  3. Dunia Industri di dalam sekolah. Industri ini di bentuk dan dilaksanakan oleh semua warga sekolah sehingga dapat di sesuaikan dengan kompetensi keahlian yang ada.

Keuntungan pelaksanaan model pembelajaran tefa dengan Model Dunia Industri di Dalam Sekolah adalah:

  1. Siswa memperoleh pengetahuan (Kelas X) dan ketrampilan (Kelas XI dan XII) sesuai kompetensi keahlian masing-masing berdasarkan 8 Standar Pendidikan.
  2. Alumni siap kerja di dunia industri bahkan siap berwirausaha berbekal jika tidak mendapat pekerjaan di dunia industri.
  3. Orang Tua dapat terlibat dalam memotivasi dan menunjang kebutuhan belajar terutama untuk meningkatkan ketrampilan anaknya.
  4. Guru. Guru mapel Kelas X menambah referensi materi pembelajaran di depan kelas. Guru mapel Kelas XI dapat mengarahkan siswa untuk praktek langsung sesuai kompetensi mata pelajarannya. Guru mapel kelas XII mendapatkan hasil evaluasi yang sesuai untuk persiapan pembekalan menghadapi Ujian Nasional. Selain itu, karena semua guru dapat saling bekerja sama mendidik siswa.
  5. Sekolah swasta mendapatkan bantuan peningkatan mutu pendidikan dari pemerintah berupa barang / jasa dalam bentuk hibah. Bantuan ini sangat kurang dalam peningkatan berdasarkan 8 standar mutu pendidikan. Melalui tefa, sekolah dapat melakukan pengolahan mutu pendidikan dengan efektif dan efisien. Warga sekolah adalah konsumen internal tefa.
  6. Masyarakat adalah konsumen eksternal danterbesar tefa.

Bagaimana dengan pengelolaannya? Sama saja dengan pengelolaan industri di luar sekolah yang tujuannya mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Perbedaannya terletak pada jenis keuntungan yang ingin diperoleh tefa yaitu: peningkatan berdasarkan 8 standar mutu pendidikan yaitu:

  • Standar Kompetensi Lulusan
  • Standar Isi
  • Standar Proses
  • Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan
  • Standar Sarana dan Prasarana
  • Standar Pengelolaan
  • Standar Pembiayaan Pendidikan
  • Standar Penilaian Pendidikan

Bagaimana pengelolaan keuangannya? Tefa fokus pada pemberdayaan unit produksi yang sudah ada sejak lama dan menambah unit produksi baru menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Pengelolaan keuangan tefa di lakukan oleh sekolah untuk peningkatan sekolah sesuai 8 standar mutu.

Maka jelaslah bahwa tefa hanya gabungan metode pembelajaran berbasis kompetensi dan produk. Di mana siswa diajar sesuai kompetensinya sekaligus menghasilkan produk yang layak di jual. Hasil penjualan produk barang / jasa digunakan untuk peningkatan berdasarkan 8 standar mutu pendidikan.